My Album Photo

tentang saya...

Foto saya
kediri, east java
seorang gadis remaja yang beranjak dewasa, yang mulai meraba-raba sebenarnya kalau udah gede mau jadi apa?? :> :s Ribet banget ya,.. so langsung aja yuk cekidot'in blog saya.. >_^

GUNUNG BAWAKARAENG


Gunung Bawakaraeng

Gunung yg bisa di bilang Gunung Andalan para pendaki Makassar, jaraknya hanya 75 km dari Kota Makassar dan menjadi gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.

Gunung ini bisa dicapai dari kabupaten Gowa, yg berbatasan dengan Kota Makassar, bisa juga ditempuh melalui Kabupaten Sinjai, hanya saja jalur lewat Kabupaten Sinjai jarang digunakan.

Rute yg paling sering digunakan adalah melalui Kabupaten Gowa, Kalau pendaki berasal dari Sulawesi - selatan atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino.




AKSES KASANA
MAKASSAR - SUNGGUMINASA - LEMBANNA

Dari Pusat kota makassar naik angkot (pete-pete) ke terminal sungguminasa (Term. Lama) dengan tarif perorang Rp. 3.000, Dari terminal sungguminasa menggunakan mobil yang berwarna merah yang jurusan ke malino sampai di desa lembanna (Kampung Beru), Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tempuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan.

Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Tarif per Orang Rp. 30.000.

Biasanya banyak pendaki bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari.



Tahapan rute Pendakian.


Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.

Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2, di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda.

Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam.

Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 - 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat.

Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl. Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai.

Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat.

Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Pos 10 adalah Puncak Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih ½ jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.



Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter.

Rute Kab. Sinjai barat, nama Desa Terakhir adalah Desa Kasoso dan katanya melewati Lembah Cina, hanya saja jalurnya jarang dilalui.

Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan.
Puncak Bawakaraeng.

Ketika tiba dipuncak Bawakaraeng, pemandangan di puncak ini termasuk yg paling bagus di sulawesi, tak heran setiap minggu gunung ini ramai di daki oleh para pendaki yg umumnya datang dari Sulawesi selatan, juga dari propinsi lainnya.

Terdapat Sumur yg dikeramatkan oleh masyarakat, biasanya mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk di bawapulang, juga terdapat batu yg biasa digunakan untuk sesajen.

Luas puncaknya kurang lebih 100 m2, pemandangan Laut dan Kota Makassar di arah barat, di arah Timur Awan terlihat tebal dan terdiam menggumpal, di arah selatan terlihat Gunung Bulusaraeng dan arah selatan, adalah Gunung LompoBatang 2871 mdpl, bisa dilintasi lewat Gunung Bawakaraeng.

Waktu tempuh untuk pendakian Gunung Bawakaraeng, kalau dirata-rata dari Desa Terakhir kira-kira 6 - 8 jam perjalanan.
Objek Menarik

• Air Terjun Lembanna
• Air Terjun Takappala
• Taman Wisata Hutan Malino

Perijinan

Biasanya Biaya perijinan untuk mendaki gunung ini Rp. 2.000 /orang, dan hanya mengisi Buku Tamu dan lapor kepada Kepala Dusun di Lembanna

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GUNUNG AGUNG


Gunung Agung

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang Kab.Karangasem - Bali. Gunung Agung adalah gunung berapi tipe strato, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang terkadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, padahal puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar. Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan. Pagi hari udara masih bersih sehingga kita dapat memandang gunung-gunung lainnya di pulau bali, menjelang siang badan dan puncak Gunung Agung diselimuti awan sepanjang hari.
 
Rute Pendakian
Pendakian menuju puncak gunung ini dapat dimulai dari tiga jalur pendakian yaitu :
  • Dari selatan adalah dari selat lewat sangkan kuasa.
  • Dari tenggara ialah dari Budakeling lewat nangka
  • Dari Barat daya yang merupakan jalur pendakian yang umum digunakan oleh para pendaki yaitu dari Pura Besakih.
 
JALUR PURA BESAKIH
Jalur ini sering dipakai pendaki, selain melewati kompleks pura Besakih yang terkenal , kita akan melihat pemandangan yang sangat mengesankan disepanjang perjalanan. Disepanjang jalur ini tidak terdapat mata air sehingga pendaki harus membawa bekal air yang banyak. Menjelang batas hutan terakhir sebenarnya terdapat mata air yang disucikan oleh masyarakat, namun tidak boleh sembarang orang untuk ke sana.
 
Perjalanan diawali dari pura puseh lewat pura plawangan ke pura telaga mas kemudian perjalanan dilanjutkan ke tirta dasar sampai di batas hutan terakhir atau dinamakan hutan pengubengan. Melewati kompleks pura jalanan tertata rapi, kemudian kita memasuki kawasan hutan yang agak landai sekitar 1/2 jam, selebihnya jalur terus menanjak.
 
Jalur yang dilewati sempit dengan sisi kiri kanan jurang, jalur ini terdiri dari tanah bercampur pasir dan kerikil sehingga sangat licin, bila hujan jalur akan semakin parah. Terdapat banyak tanjakan terjal melalui akar-akar pohon dengan berpegangan menggunakan akar. Dalam kawasan hutan ini jalur sempit sehingga bila berjumpa dengan pendaki lain harus minggir, juga hampir tidak ada tempat yang cukup luas untuk membuka tenda. Itulah sebabnya para pendaki sangat mengganggu masyarakat yang sedang mengadakan upacara di gunung. Menjelang batas akhir hutan jalur berupa pasir yang sangat licin dan mudah merosot. Perkemahan dapat dilakukan pada ketinggian 2500 meter atau setelah 5 jam pendakian melalui kawasan hutan. Di sini menjadi batas akhir hutan dan jalur agak lega dan terdapat tempat yang sedikit terbuka. Banyak terdapat monyet yang pemalu, mereka mengikuti pendaki namun tidak berani mendekat, berbeda dengan monyet di gunung Rinjani yang sangat berani dan mengganggu pendaki. Di siang hari tampak monyet-monyet bermain-main di lereng-lereng yang sangat terjal. Dari titik ini pendaki dapat melakukan point atau terus mendaki selama 3 jam sampai ke puncak kawah gunung Agung sebelah tenggara.
 
Jalur berikutnya berupa tebing curam dengan batu-batu besar, pendaki harus merangkak dan memanjat tebing ini, pendaki harus mencari sendiri sisi tebing yang mana yang nyaman dipanjat. Selain sangat curam juga sangat berbahaya karena dibawahnya batu-batu besar siap menyambut kita bila sampai tergelincir kebawah, bisa-bisa pendaki akan menggelinding ke jurang yang lebih dalam lagi.
Setelah berhasil memanjat tebing, meskipun tanpa peralatan panjat tebing, kita akan disambut oleh lereng terjal dan tandus. Disini pendaki harus merangkak mendaki ke atas karena keterjalannya yang sangat curam. Pendaki akan tertipu seolah-olah disinilah puncak gunung agung, setelah bersusah payah memanjat tebing ini pendaki akan kecewa karena setelah sampai di puncak tebing tampak menjulang tinggi bukit pasir dan batuan yang jauh lebih tinggi dan lebih berbahaya.
 
Puncak tertinggi berada di sebelah barat daya, yakni sebuah bukit berbatu yang tandus dari batu gunung berapi yang runcing. Untuk menuju kawah Gunung Agung kita melewati beberapa puncak gunung yang berpasir dan jalur sangat sempit dan memanjang. Jalur ini sangat curam dan berbahaya, lebih-lebih jika ada angin kencang dan badai akan semakin membahayakan pendaki.
Kawah gunung agung lebar melingkar dan sangat curam disisi luar, dan tegak lurus kecuramannya di sisi dalam kawah. Setiap tahun diadakan upacara dengan sesaji kerbau yang diceburkan ke dalam kawah melewati jalur selat ( sisi selatan ), karena tidak mungkin untuk melalui jalur Pura Besakih. Pendaki bisa berjalan di sepanjang sisi kawah untuk menuju jalur pendakian yang lain.

 
Perinjinan
Tidak terdapat pos khusus untuk para pendaki, namun pendaki wajib melaporkan diri di kantor polisi di pintu gerbang Pura Besakih. Untuk kelengkapan surat-surat sebaiknya siapkan surat jalan dari sekolah/kampus atau RT/RW. Tidak dikenakan biaya administrasi tetapi sebaiknya kita memberi secara suka rela. Kita dapat juga bermalam di pos polisi ini jika kemalaman pada saat turun gunung. Tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari petugas (polisi) tentang gunung, kecuali catatan kecelakaan yang terjadi di Gunung. Bila hendak menyewa ranger (guide) biayanya berkisar Rp.400.000,- Dari para guide lokal inilah informasi tentang gunung baru bisa diperoleh.
Agar selamat sebaiknya pendaki singgah di pura untuk berdoa, pantangan bagi pendaki agar tidak membawa daging sapi dalam bentuk apapun. Pada saat ada upacara besar biasanya pendaki dilarang naik karena menurut kepercayaan dan pengalaman masyarakat setempat biasanya sering terjadi kecelakaan pada saat ada upacara besar. Pendakian menuju puncak gunung agung ini akan melewati tempat-tempat ibadah orang bali, sehingga bagi para pendaki yang ketika akan mendaki mendapati upacara keagamaan disarankan agar menunda pendakiannya untuk menghormati ritual keagamaan tersebut. Disamping itu jalur yang dilalui sempit apa bila berjumpa dengan iring-iringan masyarakat yang hendak mengadakan upacara di gunung, ke beradaan para pendaki sangat mengganggu perjalanan mereka yang membawa berbagai sesaji. Selain itu pantangan lain untuk mendaki gunung ini adalah, membawa makanan yang berasal dari daging sapi, atau barang dan peralatan yang terbuat dari kulit sapi. Dilarang membawa perhiasan yang terbuat dari emas. Bagi perempuan yang sedang datang bulan dilarang keras untuk mendaki. Gunung ini tidak tertutup bagi orang asing

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GUNUNG TAMBORA


Gunung Tambora

Gunung yang bertipe Strato vulkanik ini dan berlokasi di wilayah administratif Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima di Nusatenggara Barat ini mempunyai ketinggian 2.851m dpl dan berada pada posisi geografis 08° 15` LS dan 118° 00' BT. Gunung yang mempunyai kawah kaldera 6 x 7 km dengan kelilingnya sekitar 16km dan kedalaman kawah hingga 800m ini merupakan gunung yang termasyur di dunia. Termasyur karena pada tanggal 5 April 1815 meletus dengan dahsyat dan letusan tersebut termasuk letusan yang terbesar didunia. Dahulunya gunung ini menurut perkiraan para ahli mempunyai ketinggian lebih dari 4.000m dpl, dan letusan dahsyat tersebut telah memotong puncaknya hingga mempunyai ketinggian 2851m dpl, letusan yang menyemburkan 36 mil kubik ini juga telah memusnahkan hingga punah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tambora. Abu letusan tersebut menutupi sinar matahari hingga ke Eropah dan menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan didaratan Eropah, dan musim dingin panjang ini jugalah yang telah menyebabkan kalahnya Napoleon di Waterloo. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadikan Tambora sangat terkenal didunia. Kaldera besar yang dimiliki gunung sangat menakjubkan dan indah. Kawasan Gunung Tambora ini terbagi menjadi dua bahagian lokasi konservasi yaitu: Tambora Utara Wildlife Reserve seluas 80.000 hektar dan Tambora Selatan HUnting Park seluas 30.000 hektar. Dikawasan hutan Gunung Tambora bisa ditemukan binatang-binatang seperti: Rusa Timor (Cervus timoresis), babi hutan (Sus scrofa), Kera berekor panjang (Macaca fascicularis), dan lainnya.

AKSES TRANSPORTASI dan AKOMODASI
Pintu masuk untuk pendakian awal ke puncak Tambora adalah dari desa Pancasila, untuk mencapai desa ini bisa dilakukan lewat kota Mataram atau kota Bima. Jika dari Mataram, dengan menggunakan bus Sari Rejeki dari terminal Bertais Mataran, dengan trayek Mataram – Calabai. Bus ini sehari hanya ada satu, berangkat setiap jam 9 pagi dan sampai di Calabai jam 6 pagi keesokan harinya. Dari Pasar Minggu (Calabai) anda bisa meneruskannya dengan naik ojek dengan tariff Rp.25.000,- per orang. Jika jumlah rombongan anda cukup banyak, biasanya supir bus Sari Rejeki ini tidak akan keberatan mengantarkan anda hingga ke Desa Pancasila. Jika anda ke Pancasila melewati Kota Bima, maka terlebih dahulu anda harus ke kota Dompu baru dari Dompu anda berganti bus yang ke Calabai, bus trayek Dompu – Calabai ini hanya ada dua kali sehari berangkat setiap jam 6 pagi dan jam 2 siang. Anda harus mempersiapkan diri anda untuk naik bus ini karena merupakan hal yang wajar pada bus Dompu – Calabai ini menaikan penumpang melebihi kapasitas bangkunya seperti bangku kapasitas dua orang diisi hingga empat orang. Jika anda mau nyaman anda juga bisa mencarter mobil dari Bima.

RUTE PENDAKIAN
Untuk mencapai puncak Tambora, pada jalur pendakiannya terdapat 5 pos yang harus kita lewati.

Desa Pancasila - Pintu hutan
Dari desa Pancasila kita akan melewati jalan tanah yang cukup lebar dan bisa dimuati oleh kendaraan roda empat dikiri kanan jalan terdapat perkebunan kopi dan juga ada sebuah Pura Hindu bali yang tidak jauh dari jalan tersebut, jalan ini cukup panjang jika ditempuh dengan jalan kaki akan memakan waktu sekitar 3 jam. Untuk mempersingkat waktu ada baiknya juga jika anda menggunakan ojek motor hingga ke Pintu hutan.
Pintu Hutan - Pos I
Pendakian diawali dari sini dan akan melalui jalan setapak yang cukup lebar yang merupakan bekas lalu lintas truk pengangkut hasil loging kayu di hutan Tambora. Agak semakin jauh jalannya mulai tertutup oleh semak belukar berduri dan ilalang, disepanjang jalan banyak dijumpai tumbuhan pakis sayur yang baisa dibuat sayur, pakis ini berbeda dengan pakis hutan yang berbulu dan berasa pahit. Pos I hanya berupa sebuah tanah terbuka yang dikitari oleh semak belukar. Tidak ada sumber air disini.

Pos I - Pos II
Dari Pos I menuju Pos II jalan setapaknya seperti halnya pada etape pertama tadi masih landai dan sesekali menanjak, masih melewati semak belukar cukup lembab. Pada etape ini anda akan disambut oleh populasi pacet yang cukup banyak. Mendekati Pos II mulai memasuki hutan dengan pohon-pohon yang cukup besar-besar. Hati-hati di beebrapa tempat ada seperti jalan bercabang. Di Pos II ini terdapat sebuah pondok dan sumber air berupa sebuah kali kecil yang terletak tidak jauh dari pos II. Waktu tempuh dari Pos I ke Pos II kurang lebih 2,5 jam.

Pos II - Pos III
Jalur pendakian dari Pos II turun ke arah sungai dan setelah menyeberangi sungai kecil itu ada tanjakan yang cukup terjal dan setelah itu kembali jalan setapaknya landai. Pada etape ini pacet masih ada, karena hutannya masih cukup lembab. Pos III merupakan sebuah ataran yang cukup luas bisa menampung sekita 10 tenda. Disini ada sebuah pondok kayu seperti rumah panggung. Sumber air bisa ditemukan di pos ini berjarak sekitar 300 meter. Biasanya Pos II ini dijadikan sebagai camp untuk menginap, karena pada Pos IV tidak ada air, dan pada Pos V hanya ada air genangan pada sungai kering, yang terkadang juga kering tanpa genangan. Summit attack biasanya dilakukan dari Pos III pada dini hari sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari agar sampai dipuncak sewaktu sunrise. Waktu tempuh dari pos II ke Pos III

Pos III - Pos IV
Dari Pos III menuju Pos IV jalur jalan masih dipenuhi oleh tumbuhan daun jelatang (daun pulus) dan daun ini memenuhi kiri kanan jalur hingga Pos IV. Jalur pendakiannya landai. Tapi harus waspada dengan sengatan daun jelatang. Pada jalur ini ada sebuah punggunngan yang dipenuhi oleh tumbuhan jelatang dan untuk melewati daerah ini hanya ada sebuah pohon tumbang sebagai jalan kita. Waktu tempuh dari Pos III ke Pos IV sekitar kurang lebih 2 jam perjalanan. Pos IV berupa sebuah tanah datar yang cukup untuk menampung 5 - 7 tenda dan dikitari oleh daun jelatang serta pohon-pohon besar yang melindungi dari sengatan matahari. Di pos ini tidak ada sumber air.

Pos IV - Pos V
Menuju Pos V, tumbuhan jelatang dan pohon-pohon besarnya mulai berkurang dan digatikan oleh ilalang dan pohon-pohon kecil. Jalur pendakiannya landai dan pada beberapa tempat yang terbuka dan cuaca cerah kita akan bisa melihat dengan jelas puncak Rinjani disebelah barat, pulau Satonda dan Pulau Mojo. Pos V ini Terdapat sebuah pondok sederhana, lokasi pos ini cukup terlindung dari angin karena rimbunnya pohon-pohon disekelilingnya. Di lokasi ini ada sumber air yang lokasinya bisa ditemukan disebuah sungai kering yang berjarak 50 meter menuruni lembah, akan tetapi hanya berupa genangan dan sebaiknya tidak mengkonsumsinya karena warnanya yang sedikit gelap. Pos V ini bisa juga dijadikan lokasi alternatif untuk basecamp sebelum summit attach, akan tetapi konsekuensinya harus membawa persediaan air yang cukup dari pos III. Jarak tempuh dari Pos IV ke Pos V kurang lebih 2 jam.Pos V - Bibir Kawah

Etape ini yang cukup panjang dan keadaan medan yang terbuka, didaerahinipada pagi hari banyaksekali dijumpai ayam hutan. Jika anda sampai di etape ini hari sudah pagi akan membuat anda cukup bosan karena jalur pendakiannya cukup menanjak dan melingkar. Tapi pemandangan cukup indah dari sini. Jalan setapak sudah berbatu dan berpasir. Setelah melewati sekumpulan cemara terakhir anda akan sampai pada medan berpasir yang menandakan bibir kawah Tambora sudah dekat. Jarak tempuh dari Pos V ke bbir kawah sekitar 2,5 jam.Bibir Kawah - Puncak

Dari bibir kawah puncak ada terlihat di sebelah kiri kita, untuk menuju kesana jalan setapak ada di pinggiran kawah, jangan terlalu ke pinggir kawah karena kemungkinan bbir kawah longsor bisa terjadi. Pada saat berada di bibir kawah Tambora ini hendaknya berhati-hati terhadap lautan pasir yang cukup dalam dan angin yang bertiup cukup kencang. Jangan berdiri terlalu dekat dengan bibir kawah yang rawan longsor karena di beberapa tempat pijakannya hanya berupa tumpukan pasir yang rawan longsor. Puncak Tambora sendiri yang dikenal dengan sebutan "Doro Meleme" yang artinya Gunung yang runcing ini masih berjarak letaknya. Diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapainya dari tempat awal bibir kawah. Di puncak gunung ini bisa ditemukan tiang trianggulasi yang berupa sebuah prasasti yang dibuat oleh pemerintah setempat. Dari bibir kawah ke puncak memakan waktu kurang lebih 30 – 40 menit.Keindahan kawah Tambora memang cukup membuat terpana. Kawah yang menganga lebar dengan luas berkilo-kilo meter, ditambah dengan eksotiknya sebuah anak gunung api yang muncul di dalam kawah. Gunung api kecil ini dalam bahasa Bima disebut sebagai Doro Afi To’i. Yang berarti Gunung Api Kecil. Belum lagi rumpun-rumpun edelweis yang tumbuh di sela-sela lapisan dataran bibir kawah yang luas dan berlapis-lapis dapat dinikmati di bawah cerahnya langit di bulan Juni – Agustus yang merupakan waktu terbaik melakukan pendakian di Tambora. Keadaan Tambora umumnya memiliki karakteristik pegunungan yang berada di wilayah timur Indonesia dengan angin yang kering dan vegetasi semak perdu. Jalur didominasi oleh jalur penebangan hutan liar dan pohon-pohon besar yang tumbang serta tumbuhan jelatang serta semak khas Tambora bernama “Tare’dek” yang berbau khas dan tumbuh di sepanjang jalur setelah pos III. Mata air yang cukup berlimpah, waspadai kemunculan babi hutan maupun rusa yang masih banyak populasinya di wilayah Tambora.

PERIJINAN
Untuk perijinan pendakian bisa diurus dirumah kepala desa Panacsila. Dan belakangan ini kebijakan dari kepala Desa Pancasila yaitu mengharuskan pendaki untuk menyewa guide lokal yang biasanya adalah anggota KAPATA. Mereka sudah cukup terlatih mengenal medan gunung Tambora.

TEMPAT MENARIK


Kawah Gunung Tambora

Tempat menarik di gunung Tambora ini tidak lain adalah kawah gunung ini yang sangat besar serta diperlengkap dengan hadirnya "Doro Afi To'i" ditengahnya. Dan jika mempunyai waktu yang banyak anda bisa mengelilingi kawah yang berjarak 16 km serta memerlukan waktu 3 - 4 hari, bisa juga menuruni kawah Tambora yang dalamnya lebih dari 800 meter dengan waktu tempuh turun sekitar 8 jam dan  melewati jalur trek yang cukup berbahaya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pegunungan Jaya Wijaya


Mendaki Pegunungan Jayawijaya

Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran pegunungan Jayawijaya dan Sudirman (Carstensz Pyramide), Irian Jaya, adalah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia. Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis tetapi termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua.

Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki puncak tertinggi di Australasia ini. Tak kurang dari Heinrich Harrer si pendaki yang hidupnya diperankan Brad Pitt dalam Seven Years In Tibet menjadi orang pertama yang mendaki Carstensz Pyramid. Kemudian Reinhold Messner pendaki pertama yang mencapai 14 puncak di atas 8.000 meter.

Pat Morrow yang mencanangkan Carstensz Pyramid sebagai satu dari tujuh puncak di tujuh benua bumi ini. Irian itu bagian dari benua Australasia katanya. Ini mengakibat pendaki-pendaki kelas dunia berbondong-bondong mengikuti jejaknya di antaranya pendaki wanita pertama Everest Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.

Sayang, prosedur izin yang harus dimiliki membuat banyak pendaki harus mengurungkan niatnya untuk berekspedisi. Apalagi wilayah pegunungan tengah Irian Jaya sempat tertutup untuk pendakian sejak kasus penculikan di Mapenduma 1995 – 1996.

Izin Mendaki yang Rumit
Di kalangan pendaki gunung di Indonesia ada satir tentang pendakian gunung di Irian Jaya. ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” keluh mereka. Izin pendakian gunung-utamanya ke Carstensz Pyramide – di Irian Jaya memang rumit dan tidak jelas. Tidak ada selembar surat izin yang sah seperti misalnya pendakian di Nepal di mana pendaki diberikan semacam paspor selembar lengkap dengan foto dan keterangan izin mendaki puncak ketinggian berapa di daerah mana.

Di Nepal ketika berhasil dan bisa menyerahkan bukti pun Departemen Pariwisata yang menangani izin ini mengeluarkan surat keterangan kesuksesan pendaki. Ketidakjelasan ini-hal yang biasa terjadi selama Orde Baru-selama bertahun-tahun bertahan dengan alasan klasik, keamanan.

Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA-intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI).
Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.

”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia-Everest ’97 ini. Galih mencapai puncak Carstensz Pyramid bersama tim Cina pada awal tahun Millenium ini. Bersama beberapa pendaki sipil dan militer, mereka menggunakan rute Timika lewat Tembagapura untuk mencapai kemah induk.

Jika lewat Nabire, surat dari Bakorstranasda dan Polda Irian Jaya harus dilaporkan ke Polres Paniai dan Kodim Nabire, yang keduanya ada di kota Nabire. Lalu terakhir di Ilaga, semua surat rekomendasi diberikan ke Tripika setempat (Ilaga) yaitu Polsek, Koramil dan Camat.

Tapi tunggu dulu, ketiga pimpinan tersebut akan memutuskan bisa atau tidaknya pendaki meneruskan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai. Nah itulah daftar panjang surat rekomendasi untuk mendaki atap Indonesia itu. Rumit dan repot.

Bambang Hertadi Mas, petualang dan pesepeda jarak jauh kawakan, sempat mengurungkan niatnya untuk berekspedisi ke puncak Carstensz Pyramide, gara-gara sulitnya mengurus izin pendakian itu. Paimo, panggilan akrab Bambang, lebih memilih memanjat Gunung Kilimanjaro, di benua Afrika untuk ekspedisi tahun 1987. ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda,” begitu komentar Paimo waktu itu.

Sebagian besar pemandu gunung, pendaki profesional sampai kelas amatiran, harus menelan kekecewaan. Padahal menurut mereka, banyak sekali turis-turis mancanegara yang ingin menggapai salju putih di kawasan tropis. Kegamangan masalah politik bumi Cendrawasih ini juga mengganggu upaya untuk menjadikan Carstensz Pyramid dan pegunungan Sudirman sebagai tujuan wisata yang bisa jadi andalan Papua. Bagi sebagian orang, Carstensz merupakan sumber rezeki tersendiri dan punya nilai jual yang tinggi.

Kelangkaan informasi tentang kedua pegunungan itu juga menjadikan minat terhadap pendakian gunung di Irian Jaya-utamanya Carstensz Pyramide-harus surut di tengah jalan. Kecuali, bagi para pendaki yang cukup dana dan pengalaman. Tak banyak buku-buku ”keluaran” negeri sendiri yang benar-benar menceritakan nikmatnya bertualang menggapai atap Indonesia itu. Paling-paling hanyalah beberapa bentuk tulisan hasil ekspedisi ke sana. Akhirnya, pendaki-pendaki lokal harus pontang-panting mencari informasi ke beberapa perkumpulan pencinta alam ternama dan berpengalaman di negeri ini. Tapi itu mungkin tidak seberapa rumit jika dibandingkan dengan mengurus perizinannya. Sampai kapan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Carstensz Pyramid- PUNCAK jAYA WIJAYA


Foto Mendaki Carstensz Pyramid

Mendaki Carstensz Pyramid adalah perjalanan pendakian yang tidak mudah. Carstensz Pyramid seperti yang Anda lihat pada gambar di bawah sebagian besar terdiri dari batuan  yang diselimuti salju,  ini adalah suatu keajaiban bahwa sebuah gunung yang terletak dikhatulistiwa dapat terlihat seperti ini.









  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GUNUNG MERBABU


Gunung Merbabu

Gunung ini berlokasi di kabupaten Magelang dan boyolali Jawa Tengah, dengan ketinggian 3142m dpl. Pendakian bisa dicapai dari desa Kopeng dan Selo. Atau anda bisa mendaki dari kopeng dan turun di Selo atau pun sebaliknya. Titik pendakian dari Selo merupakan juga titik pendakian untuk gunung Merapi. Gunung Merbabu merupakan gunung non aktif. Gunung akan terlihat jelas dari perjalan Kalaten Menuju Boyolali. Medan gunung ini terbuka dan berbukit-bukit dan juga pada awal pendakian kita banyak menemukan ladang-landang petani. Pendakain dari Kopeng anda akan menemukan banyaknya pucak tipu, sebelum mencapai puncak Merbabu. Kondisi gunung ini dimusim kemarau sangat kering, sewaktu web master highcamp mendaki gunung ini hampir separuh dari gunung ini terbakar dan sangat gersang, air juga susah untuk ditemukan, sebaiknya anda bertanya dahulu pada penduduk setempat. Atau anda juga bisa menyewa penduduk setempat untuk jadi porter pembawa air. Selain dari arah selatan lewat Desa selo Boyolali pendakian gunung Merbabu ini juga dapat dilakukan dari daerah wisata Kopeng Salatiga. Banyak pendaki yang memulai pendakian dari Kopeng dan turun menuju ke selo ataupun sebaliknya. Jalur yang terdapat di gunung merbabu ini banyak percabangan jalan sehingga pendaki harus berhati-hati dalam menentukan jalur yang dilewatinya. Hutan gunung inipun telah banyak yang berubah fungsi menjadi ladang pertanian, hanya luasnya tidak seperti gunung Sundoro ataupun Sumbing, dan hanya beberapa punggungan saja yang merupakan ladang pertanian.
 
Dari jalur kopeng, jalur trek nya dimulai dari lokasi perkemahan wanawisata Kopeng menuju Dusun Tekelan melewati perkebunan pinus, kebun sayuran, kebun tembakau rakyat, dan jalan desa yang bisa dilalui angkutan roda empat langsung menuju rumah kepala desa. Lokasi mendirikan tenda yang baik ada di camp II (Lempong Sampan), Camp III (Watu Gubug) dan Puncak I (antena), Bila menemukan jalur cabang dua, setelah melewati saluran air kecil (yang terkadang kering), maka sebaiknya mengikuti arah yang kekanan. sebab arah kiri akan buntu di bak sumber air. Pipa saluran air yang terbentang mulai dari Dusun Tekelan sampai ke puncak (sumber mata air), dapat dijadikan pemandu jalur kearah puncak sampai pada jalur cabang dua tadi. Disisi sebelah kiri jalur kearah puncak didominasi oleh medan jurang, sedangkan sebelah kanannya hutan tropis dan tumbuhan perdu/belukar.

Dari Puncak I (Antena, 2800 m dpl), menuju puncak II (Syarif, 3142 m dpl), dan Puncak III (Kenteng Sango, 3224 m dpl), bisa ditempuh dalam waktu 1 - 2 jam. Akan tetapi, harus extra hati-hati ketika melewati punggung jurang Pundak Sapi dan Jembatan Setan pada jalur ke Puncak III. Dibawah Puncak I, tepatnya kearah jalur Puncak II, terdapat kawah yang sudah mati. Kadang-kadang disekitar kawah mati itu terdapat sumber air yang bisa diminum. Disepanjang jalur hingga puncak tidak terdapat sumber air yang permanen ada, jadi sebaiknya bawalah bekal air yang cukup.

Rute Pendakian

ImageJika hendak mendaki dari arah jalur Utara (Tekelan, Kopeng), Bisa naik bus dari teminal Salatiga dengan jurusan Salatiga-Magelang dan turun di Kopeng. Atau bisa juga naik bus jurusan Semarang-solo dan turun disimpang empat PAsar Sapi, Salatiga. Kemudian berganti angkutan menuju kejurusan Kopeng. Dari tempat rekreasi Kopeng, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke lokasi perkemahan wanawisata. Sepanjang jalur kepuncak tidak terdapat pondok/shelter, kecuali lokasi camp/bivak.
Berikut adalah urutan pendakian dari desa Tekelan.
Pos jaga wanawisata - Desa Tekelan (1 jam)
Desa Tekelan - Camp I (kidung Gumuk 2400 m dpl) 2 jam
Camp I - Camp II (Lempong Sampan) 1,5 jam
Camp II - Camp III (Watu Gubuk) 2 jam
Camp III - Puncak I (antena 2800 m dpl) 0,5 jam
Puncak I - Puncak II (Syarif 3142 m dpl) 1 jam
Puncak II - Puncak Utama (Kenteng Songo 3224 dpl) 1,5 jam

JALUR WEKAS (SISI BARAT)
Jika dibandingkan dengan ketiga jalur yang ada yaitu jalur Tekelan, Cuntel dan Selo. Jalur pendakian dari desa Wekas ini jauh lebih pendek dan disamping itu pada Pos II jalur ini ada sumber air dari pipa yang bocor. Jalur Wekas ini nanti nya akan bertaut dengan jalur dari Tekelan/Cuntel yaitu tepatnya setelah puncak Antene jalur Wekas akan menyatu dengan kedua jalur dari arah Tekelan dan Cuntel tepatnya jalur tersebut menyatu pada sebuah patok pemisah kabupaten.
AKSES TRANSPORTASI
Akses untuk samapai di Wekas bisa melewati Magelang dengan menumpang minibus tujuan Kopeng dan kemudian turun di GERBANG Kaponan yang merupakan gerbang desa Wekas. Ongkosnya Rp.5.000,- Kemudian dari gerbang ini menuju Desa Wekas berjarak sekitar 3 km. Bisa juga menggunakan Ojek hingga basecamp Wekas dengan sewa Rp.10.000,- atau mencarter pick-up dengan tarif berdasarkan negosiasi. Jalan aspal berbatu menuju desa Wekas cukup curam dan menanjak.

PERIJINAN
Perijinan bisa diurus di basecamp jalur Wekas yang merupakan kediaman dari Pak Sutyoso yang merupakan kuncen (juru kunci) jalur Wekas.
RUTE PENDAKIAN

Basecamp Wekas - Pos I

Basecamp Wekas
Dari basecamp Wekas jalur pendakian dimulai dengan menapaki jalan kampung dan kemudian terus berlanjut dengan jalan kecil yang terbuat dari susunan batako yang di semen, lumayan menanjak. Jalan bersemen ini berakhir pada sebuah bangunan makam yang ada rumahnya. Kemudian jalur pendakian berupa jalan tanah yang jelas sekali. Sepanajng jalur menuju Pos I keadaan hutan tidak begitu rapat. Masih terdapat perladangan penduduk dan hutan cemara.


Pos I – Pos II
Pos I
Pos I merupakan sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka, tpi pada Pos I ii tidak terdapat sumber air, pos ini hanyalah sebagai persnggahan sementara bagi pendaki jarang yang menginap disini. Kondisi jalur trek menuju Pos II dari Pos I terlihat jelas sekali dan cuup menanjak, selepas pos I akan bertemu dengan pipa plastik alran air dan jalur trek hingga Pos II akan mengikuti pipa plastik ini. Keadaan hutan tidak beitu berbeda dengan aape jalur trek sebelum Pos I. Mendekati Pos II jalan setepak akan sedikit mendatar dan disebelah kiri akan terlihat punggungan pucak Antene dengan antenenya. Waktu tempuh dari Pos I ke pos II kurang lebih 2,5 jam.


Pos II – Pertigaan jalur dari arah Kopeng

Image
Pos II merupakan areal datar yang cukup luas, dan jika musim ramai pendakian di pos ini ada warung yang dibuat oleh penduduk setempat. Pemandangan sangat indah di Pos II ini jika cuaca bagus punggungan punak antene, punak hellypad dan beberapa pungungan lainnya. Indah sekali mirip pemandangan alpen. Disebelah kiri pos terdapat punggungan dan lembah yang dalam, didasar lembah tersebut terdapat air terjun. Di pos ini ada sumber air yang berasal dari pipa air yang dibolongi. Pos II banyak dijadikan alternatif sebagai tempat bermalam oleh pendaki. Dari Pos II menuju pertigaan jalur yang dari arah Kopeng (Tekelan dan Cuntel) jalur setapak cukup menanjak tajam tidak jauh dari Pos II akan bertemu dengan pertigaan, ambil jalur trekk yang sebelah kiri jalur ini kemudian akan menanjak dan bertemu batu besar kemudian belok ke kiri hingga jalur bertaut dengan jalur dari arah Kopeng. Waktu tempuh dari Pos II hingga ke pertigaan jalur dari Kopeng ini kurang lebih 2 jam.

Pertigaan jalur arah Kopeng – Hellypad.

PertigaanPertigaan tempat jalur Wekas dan jalur dari Kopeng bertaut dan menjadi satu menuju puncak ini ditandai dengan sebuah patok perbatasan kabupaten. Dari sini Pos II dan jalur menuju puncak jelas terlihat. Dan tidak jauh dari pertigaan ini hellypad sudah terlihat.






Hellypad

ImageLokasi ini berupa sebuah dataran yang terbuka mampu memuat 4 -5 tenda dan dari lokasi ini bisa menikmati pandangan  ke berbagai arah. Puncak Syarif dan puncak Keteng Songo jelas terlihat dari sini. Jika turun ke arah kawah kita akan menemukan sumber air, yang kadang sedikit berasa agak asam karena pengaruh belerang. Hellypad merupakan pilihan yang bagu untuk mendirikan tenda. Pemandangannya bagus sekali, tapijika anda memutuskan untuk mendirikan tenda di Hellypad ini tenda anda haruslah cukup kuat menahan hebusan angin karena lokasinya yang sangat terbuka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GUNUNG SALAK


Gunung Salak

Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Vulkanologi dan geologi
Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Menurut Hartman (1938) Gunung Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh Gunung Salak II dan kemudian muncul Gunung Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari Gunung Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.

Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211 Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.

Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest). Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).

Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya. Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Margasatwa
Aneka margasatwa ditemukan di lereng Gunung Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia. Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, Huia masonii, Limnonectes kuhlii, L. macrodon, L. microdiscus, Rana chalconota, R. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).

Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di Gunung Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.

Gunung Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterus, Phaenicophaeus javanicus dan P. curvirostris, Sasia abnormis, Dicrurus remifer, Cissa thalassina, Crypsirina temia, burung kuda Garrulax rufifrons, Hypothymis azurea, Aethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica. Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia Gunung Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan trenggiling (Manis javanica).


Sunrise di gunung salak


Bagi masyarakat yang hobi dan suka alam bebas, Gunung salak merupakan salah satu tujuan mereka guna memenuhi kepuasan untuk bagaimana caranya menghargai dan mencintai alam. Gunung Salak mempunyai pemandangan dan pesona alam yang masih asri. Bila Anda ingin mencoba wisata petualangan dengan mendaki Gunung Salak, Anda dapat menggunakan beberapa jalur pendakian, salah satunya melalui Jalur Girijaya dan Jalur Kutajaya (Cimelati).

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, karena terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Selain itu terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Sedangkan di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, salah satunya adalah makam keramat dan ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa dan licin sekali. Selain itu angin seringkali bertiup kencang. Sebenarnya gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur, di antaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi. Dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berziarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Desa Kutajaya / Cimelati.

Rute Pendakian
Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam.

Dari bumi perkemahan menuju shelter I, jalur awalnya cukup curam, berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kemudian akan memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian Anda akan melewati jalur yang bervariasi, datar, naik dan turun.

Menuju shelter II, jalur mulai lembab dan basah. Beberapa sungai kecil akan Anda lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Anda akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka di sekitar jalur ini.

Di shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat, dan di dekat shelter II ini juga terdapat sungai. Menuju shelter III, Anda akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur. Bahkan di beberapa tempat, jalur berupa tanah licin yang curam, namun Anda masih agak tertolong adanya akar-akar pohon.

Untuk menuju shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat Anda akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Anda akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya Anda mengambil air bersih disungai tersebut karena di sanalah sumber air bersih terakhir yang bisa dijumpai.

Shelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini Anda juga dapat mendirikan tenda

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS